RSS Feed

Ngos-ngosan Menuju Puncak Mercusuar

Napas hampir putus dan pegal menusuk kaki. Mercusuar Anyer setinggi kurang lebih 60 meter itu terdiri dari 17 lantai. Perlu sekitar 15 menit meniti setiap anak tangga tanpa henti untuk mencapai puncak Mercusuar. “Pelan-pelan aja kalau naik, jangan ngoyo,” kata Cucu Samsudin, penjaga mercusuar.Setiap berhasil naik satu lantai, ia pun mengajak berhenti sejenak untuk menarik napas. Tangga besi yang memutar memang bisa membuat pusing jika menaikinya tanpa henti. Namun langkah harus tergesa-gesa, karena sebentar lagi matahari terbenam.

 

Rasa letih menaiki anak tangga tujuh belas lantai terbayar sudah dengan panorama matahari tenggelam yang menakjubkan sejauh mata bisa memandang. Di sisi barat, matahari pelan-pelan memeluk cakrawala. Lembayung senja langit berubah menjadi semburat jingga. Sementara itu, sisi barat penuh warna hijau gunung dan nyiur kelapa. Tampak teduh dalam dekapan bayangan mentari.

Sebelum masuk mercusuar, sebuah prasasti menyambut pengunjung. Prasasti tersebut tertulis: Onder de Regeering Van ZM Willem III Koning der Nederlander.

Setelah tiga baris pernyataan dalam bahasa Belanda tersebut masih ada penjelasan lebih lanjut. Namun sayang tulisan dengan huruf lebih kecil tersebut sudah tidak terbaca lagi. Beberapa huruf itu ternyata banyak yang hilang akibat tangan usil pengunjung.

Cucu menjelaskan bahwa prasasti tersebut dibuat oleh pemerintah daerah. Pembuatan prasasti itu sebagai replika tulisan yang terpampang di atas pintu masuk mercusuar.

“Di bawah pemerintahan ZM Willem III dari Kerajaan Belanda. Pergantian lampu kedua untuk menggantikan lampu pertama akibat terjadinya tsunami 1883. Kurang lebih begitu terjemahannya,” jelasnya.

Lampu pertama atau mercusuar paling awal berdiri tahun 1806. Namun hancur karena tsunami akibat letusan Gunung Krakatau di tahun 1883. Di tahun 1885 lampu kedua pun menyala. Kali ini, mercusuar yang menampung lampu kedua dibangun lebih tinggi.

Mercusuar pertama yang terbuat dari batu bata itulah yang ditetapkan sebagai titik nol kilometer oleh Daendels untuk proyek ambisiusnya jalan raya. Menurut kisah yang diceritakan turun-temurun, saat terjadi tsunami, bangunan hancur terhantam air dan batu bata hanyut sampai sejauh 6 kilometer ke sungai. Mercusuar kedua kemudian dibangun 50 meter dari mercusuar pertama, menjauh dari pantai. Tak lagi menggunakan batu bata, tapi terbuat dari lempengan baja.

Sampai saat ini, pengunjung masih bisa melihat sisa fondasi mercusuar pertama yang terletak benar-benar di bibir pantai. Karena usianya yang sudah begitu tua, tak heran kalau cerita-cerita hantu pun beredar.

“Ada dua lantai yang paling seram. Salah satu lantai kalau sudah gelap suka kedengaran orang lagi main catur,” cerita Cucu.

Saat Kompas.com berkunjung, lampu mercusuar sedang tidak berfungsi karena rotasi lampu yang rusak. Akhirnya, sebagai lampu pengganti dipakai lampu dinamo yang memakai tenaga surya.

“Kalau yang lampu pijar yang lama kekuatannya sampai 20 mil. Kalau yang dinamo paling 15 mil,” jelas Cucu. Salah satu penyebab rotasi rusak adalah karena keusilan pengunjung yang memutar-mutar lampu.

Mercusuar tersebut memang menjadi salah satu ikon di kawasan Anyer. Tingginya yang menjulang terlihat dari berbagai sisi Anyer. Tak heran, mercusuar itu pun menjadi tempat wisata bagi wisatawan lokal maupun asing.

“Turis asing selalu ada aja yang datang. Ada yang rombongan, ada juga yang sendiri-sendiri. Banyak juga yang kebetulan lewat terus penasaran dan mampir karena ingin tahu. Rata-rata dari Jepang, Rusia, dan Belanda. Ada juga yang dari Amerika,” katanya.

Sebagian pengunjung memang sengaja mampir karena mengenal mercusuar tersebut sebagai peninggalan sejarah. Menurut Cucu, pada akhir pekan tingkat kunjungan mencapai sekitar 10 mobil per hari.

Jika Anda tertarik mampir, Anda cukup membayar Rp 5.000 untuk masuk ke area Pantai Cikoneng, tempat mercusuar tersebut berdiri. Namun jangan lupa, mercusuar tutup jam enam sore. Selain melihat Mercusuar, Anda bisa bersantai di tepi Pantai Cikoneng sambil menikmati hidangan ikan bakar. (kompas.com)

About travelyuk

indonesia hotel reservation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: