RSS Feed

Paris in The Orient

Mendengar nama Saigon, angan-angan kita mungkin akan terbawa ke deretan film perang produksi Hollywood era 1990-an—meski sebagian film tersebut sebenarnya disyuting di hutan-hutan Filipina.

Pada 1975, sebagai penghargaan kepada Bapak Bangsa Ho Chi Minh, kota ini berganti nama menjadi Ho Chi Minh City (HCMC). Namun demikian, di kalangan penduduk lokal dan turis, nama Saigon masih jauh lebih populer. Bahkan IATA (International Air Transport Association) meregister Bandara Tan Son Nhat dengan kode SGN, seperti yang tertera di boarding pass di semua maskapai.

Berdiri menghadap laut Cina Selatan, Saigon sangat strategis secara geopolitik dan ekonomi. Kerajaan Khmer dari Kamboja pernah menjadikannya pusat pelabuhan laut. Pada 1958, Prancis datang dan menguasai kota seluas 2.000 kilometer persegi ini, hingga akhirnya tumbang di 1954, lalu hengkang dengan mewarisi banyak gedung bergaya Eropa yang kini menjadi daya tarik wisata.

Saigon dan Jakarta memiliki banyak  kemiripan. Keduanya sama-sama berperan dalam kemerdekaan dan (kini) sama-sama mengalami problem kemacetan akibat lalu-lintas yang semrawut. Perbedaannya, Saigon hanya memainkan fungsi sebagai pusat perekonomian negara, sementara pusat pemerintahan berada di Hanoi, 1.200 kilometer di utara. Banyak perusahaan multinasional mendirikan kantor perwakilan dan pabrik di kota komunis ini. Bahkan Gucci dan louis Vuitton juga tak mau ketinggalan membuka gerainya.

Di luar kekayaan sejarah dan budayanya, Saigon dan Vietnam secara umum cukup menarik bagi turis Indonesia berkat nilai mata uangnya yang rendah (1 rupiah setara 2 dong). Harga makanan dan barang-barang di sini relatif terjangkau. Faktor pemikat lainnya adalah kondisi politik domestik yang kondusif dan jarak yang lebih dekat dari Indonesia. Sebagai perbandingan, jarak Jakarta-Saigon adalah 1.800 kilometer, lebih dekat 500 kilometer dibanding ke Bangkok.

Puluhan tahun menjadi ibukota pemerintahan koloni Prancis di wilayah Indochina, Saigon kini benar-benar menikmati ”berkah” warisan penjajahan berupa gedung-gedung cantik berarsitektur Eropa. Saigon Opera House dan Hotel Continental yang berdiri berseberangan menjadi saksi sejarah awal kemajuan kota ini.

Salah satu film Hollywood terkenal, The Quiet American, yang diadaptasi dari novel terkenal Graham Greene, mengilustrasikan peran  politik Hotel Continental di masa penjajahan. Di hotel inilah Greene menulis novelnya ketika bekerja sebagai jurnalis.

Kisah yang tak kalah seru dituturkan Rex Hotel. Awalnya dibangun sebagai showroom mobil-mobil buatan Prancis, hotel ini melambung namanya semasa Perang Vietnam karena sering dijadikan tempat konferensi pers oleh tentara Amerika. Konon, rooftop barnya merupakan lokasi hangout populer para pejabat militer dan wartawan perang di masa itu.

Dibangun pemerintah Prancis pada 1902, People’s Committee Hall awalnya adalah sebuah penginapan bernama Hotel de Ville. Arsitekturnya tetap terlihat menawan meski usianya sudah melewati satu abad. Ikon Saigon ini sekarang berstatus gedung pemerintahan yang tertutup untuk umum. Di malam hari, ia terlihat anggun berkat sorotan lampu-lampu. (sumber :jalanjalan.co.id)

About travelyuk

indonesia hotel reservation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: