RSS Feed

Kelezatan Senggigi

Menghadap sunset dan berjarak hanya 15 menit dari bandara, Senggigi masih menjadi destinasi favorit di Lombok.

Senggigi bagi Lombok seperti Kuta bagi Bali. Keduanya merupakan destinasi populer di kalangan turis lokal. Kencangnya arus uang mengubah Senggigi menjadi kawasan wisata yang paling maju di Lombok. Nyaris semua fasilitas bagi pengunjung tersedia, mulai dari bar, toko suvenir, restoran, penukaran uang, biro perjalanan, hingga hotel dari segala kelas. Dan layaknya daerah yang rutin diserbu turis, Senggigi juga mengembangkan wisata makan. Restoran dengan beragam menu tumbuh subur di sudut-sudut jalan. Berikut lima di antaranya.

Taman Restaurant

Berjarak sekitar 15 menit dari kota Mataram, Taman Restaurant (Jl.Raya Senggigi Km.8, T.0370 693 842) adalah persinggahan yang ideal untuk mengisi perut di jam makan siang setelah mendarat di Bandara Selaparang.

Restoran berkapasitas 175 orang ini menawarkan aneka menu Barat dan Asia. Arsitekturnya didesain sesuai namanya: rumah makan yang dilengkapi taman terbuka. Atap rumbia restoran dan pohon kelapa yang tumbuh berbaris di halaman depan menghadirkan corak tropis yang kental. Kita juga bisa menikmati makanan di bawah pohon-pohon kelapa tersebut.

Duduk di lantai dua, saya menikmati semilir angin segar dan pemandangan jalan raya yang dipenuhi turis. Harga makanan di Taman Restaurant cukup masuk akal, rata-rata antara Rp35 ribu – Rp70 ribu.

Khusus main course, menu favorit tempat ini adalah gulai daging dan ikan bakar sambal mentah. Daging disajikan bersama campuran bumbu salsa pedas yang menyegarkan.

Atmosfer restoran sedikit berubah di malam hari. Pijaran lampu warna kuning membuat bangunan tampak anggun. Bar yang terletak di lantai satu menyuguhkan aneka minuman, termasuk minuman favorit ”umar best selection” yang berisi Bacardi dan campuran sari nanas, pisang, serta lemon.
Bagi tamu yang ingin berbelanja, Taman Restaurant juga menyimpan sebuah galeri kecil yang memajang sejumlah lukisan karya seniman lokal.

Café Alberto

Seperti yang dipraktikkan oleh sejumlah mal di Jakarta, Café Alberto (Jl.Raya Senggigi, T.0370 693 313 http://www.cafealberto.com) mengoperasikan mobil jemputan guna mengangkut calon pelanggannya. Namun jika mal di Jakarta memakai bus yang dialiri AC, kafe ini hanya mengandalkan mobil truk pick-up. Namun pengunjung sepertinya terlihat cukup puas. Lagipula, siapa yang butuh udara dingin artifisial di tengah embusan sejuk angin pesisir Lombok.

Café Alberto memiliki spesialisasi makanan Italia. Namun kafe ini sejatinya tak cuma menjual makanan, tapi juga suasana. Khusus makan malam, tamu bisa memilih area makan sesuai dengan mood hati. Area ”tradisional” dirancang semi terbuka dengan pilar kayu dan atap alang-alang. Sementara area ”modern” mengusung tempat makan berdesain kontemporer minimalis.

Jika Anda datang bersama pasangan, sebaiknya memilih area ”romantis” yang digelar di atas pasir pantai dengan penerangan obor dan lilin. Servis yang sophisticated tak lantas membuat harga menu melambung. Harga makanan dipatok di kisaran Rp30ribu – 150ribu.

Layaknya restoran Italia, Café Alberto mengandalkan menu pizza dan pasta. Penggemar pizza wajib mencoba pizza pollo e funghi. Pizza tipis ini dipanggang secara tradisional di dalam oven kayu.

Saya juga sempat mencicipi tagliatelle al ragu, yakni fettucini yang disajikan dengan daging sapi, saus zaitun, tomat, bumbu basil, ditambah taburan keju parmesan. Rasanya gurih sekaligus renyah. Untuk minuman saya memilih coconut & passion fruit smoothie yang tak lain adalah minuman kelapa campur sari nanas dan es krim vanila. Sangat pas diseruput sembari menikmati panorama pantai.

Yang menarik, Café Alberto masih mempraktikkan tradisi makan Italia dengan menyuguhkan limoncello di akhir sajian. Minuman yang terbuat dari campuran lemon dan liqueur ini berkhasiat menghilangkan bau amis pada mulut. Kandungan alkoholnya cukup menyengat. Café Alberto buka setiap hari dari pukul 09:00 – 24:00.

Warung Kampung
Dijejali aneka warung yang menyajikan menu-menu Indonesia, Senggigi siap memuaskan turis pencinta selera Nusantara. Saya mampir di Warung Kampung (Jl.Raya Senggigi, Batu Layar) yang terletak sekitar tiga kilometer dari gerbang utama Senggigi.

Bangunannya dibalut rotan, sangat sederhana. Tak ada meja dan kursi. Konsep penyajian makanan diformat autentik dalam suasana pedesaan: lesehan. Halaman parkirnya yang sempit hanya sanggup menampung dua sampai tiga mobil. Dari buku menu, saya memesan ikan bakar Jimbaran dan cumi Jimbaran. Bumbu meresap ke daging ikan kakap yang dibakar utuh dan dilumuri kecap.

Namun menu paling unik di warung ini sebenarnya tertera di kolom dessert—kelapa bakar, yakni air kelapa panas yang disajikan dalam batok kelapa yang dibakar. Satu-satunya yang mengecewakan dari tempat ini adalah lamanya waktu hidangan dimasak. Warung yang berdiri lima tahun silam ini juga memiliki toko yang menjual aneka suvenir khas Lombok, mulai dari pahatan patung kayu, gelang, hingga mutiara.

Warung Menega

Ungkapan ”Anda bisa menemukan Bali di Lombok” menemukan manifestasi harfiahnya di Warung Menega (Jl.Raya Senggigi No.6, T.0370 6634 422). Nama warung tradisional ini diambil dari bahasa Bali kuno. Pendirinya pun berasal dari Bali. Kembar Yana mengail rupiah di Lombok karena persaingan bisnis kuliner di Bali terlampau ketat. “Di sini (Lombok) masih sepi, kenapa tidak bikin di sini?” ujarnya.

Kembar Yana sepertinya memang malas bersaing. Ia mendirikan restorannya di lokasi yang jauh dari kawasan makan Senggigi. Tapi strateginya terbukti cukup moncer. Saat saya datang, warung berka-pasitas 200 orang ini ramai oleh turis yang datang berkelompok. Tamu bahkan disarankan untuk melakukan reservasi agar bisa mendapat kursi.

Warung Menega menjajakan aneka menu seafood bakar yang sebagian disaji-kan dalam format paket. Saya memilih ”Menega spesial paket 1” yang terdiri dari ikan bakar, sate cumi, udang, kerang, ditambah sepiring plecing kangkung. Harga paket bervariasi. Yang paling murah Rp90 ribu, sudah termasuk minuman, dan yang termahal Rp320 ribu.

Happy Café

Meski masih tertinggal satu langkah dibanding Kuta di Bali, kehidupan malam di Senggigi tetap sanggup menyulap malam-malam Anda menjadi meriah dengan aneka hiburan, musik, dan minuman yang mengalir hingga subuh. Happy Café (Jl.Raya Senggigi, Plaza Senggigi, T.0370 693 984) adalah salah satu tempat yang berdenyut paling kencang di bawah sinar bulan Lombok.

Tempatnya meriah dan energik. Sang pemilik, Aek, terjun ke bisnis kafe pada 2003 didorong hobi personal: ia gemar keluar malam dan menenggak minuman beralkohol. Happy Café terletak sekitar tiga menit dari Pasar Seni Senggigi. Konsepnya adalah gabungan pub dan restoran, dengan hiburan live music yang mengusung aliran rock dan reggae.

Happy Café menawarkan menu Barat dan Asia di area makan berkapasitas 200 orang. Sushi dan bir dingin jadi favorit para pengunjungnya. Berhubung porsi sushi terlalu mini, saya memilih steak daging sapi yang dibalut tepung roti dan keju mozzarella. Porsinya besar dan harganya setara tiket nonton di bioskop Jakarta—Rp50 ribu.

Pentas musik dimulai pukul 20:30 dan bergulir setiap hari. Happy Café mengajak Anda bernostalgia dengan koleksi tembang rock lawas dari band sejenis U2 dan Guns n’ Roses. Di malam minggu, tempat ini lazim beroperasi hingga jam tiga pagi. Moto yang diusung Happy Café untuk menjaga pelanggannya terus bergoyang cukup simpel: ”I drink. I get drunk. I fall down. No problem”.

About travelyuk

indonesia hotel reservation

One response »

  1. wo pengen dong jalan2 ke pulau2 di indonesia, mohon update terus info2 tentang tour n travelnya ya….

    http://www.tokoalatmusik.com

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: