RSS Feed

Masjid Kobe : Masjid Pertama di Jepang

Posted on

Jangan keliru menyebutkan nama masjid ini. Bukan Masjid Kuba, kalau Masjid Kuba adanya di Madinah Saudi Arabia. Sedangkan masjid ini disebut masjid Kobe, karena terletak di kota Kobe Jepang, 500 km dari Tokyo.

Masjid Pertama

Orang Jepang memanggil masjid yang terletak di Nakayamate Dori, Chuo-ku, Kobe, ini dengan sebutan Kobe-kaikyo-jiin atau Kobe-mosuku. Sedangkan nama aslinya adalah Masjid Muslim Kobe. Masjid ini merupakan masjid tertua di Jepang. Sampai sekarang, Masjid kebanggaan Muslim Jepang ini tetap kokoh berdiri dan dipergunakan sebagai tempat ibadah umat Islam sekaligus tempat kegiatan keagamaan Muslim Kobe.

Berada di salah satu kawasan paling terkenal di Kobe, dengan dua buah menara kembar dan kubah besarnya, masjid ini berdiri kokoh dan anggun di antara bangunan-bangunan berar-sitektur Eropa lainnya.

Jumlah para pedagang Muslim yang tinggal di Kobe pada awal 1900-an masih terbilang sedikit. Mereka biasa melaksanakan berbagai kegiatan keagamaan di rumah-rumah atau aula hotel. Pada 1920-an jumlah komunitas Muslim di Kobe kian meningkat.

Selain jumlah kedatangan para pedagang beserta keluarganya dari India dan Timur Tengah yang terus meningkat, hal ini disebabkan juga oleh kedatangan Muslim Tartar yang berasal dari Rusia dan Asia Tengah. Mereka datang ke Kota Kobe untuk menghindari Revolusi Bolshe-vik pada saat Perang Dunia I. Tekanan dari rezim komunis memaksa Muslim Tartar keluar dari negara asalnya.

Banyaknya jumlah komunitas Muslim Kobe pada saat itu, membuat mereka harus segera memutuskan untuk mendirikan masjid sebagai tempat ibadah. Pada 1928 dibentuklah Komite Muslim Kobe. Para pedagang dari India dan Timur Tengah yang sering bepergian keluar-masuk Jepang terus meminta donasi dari para pedagang lainnya untuk biaya pembangunan Masjid. Enam tahun kemudian akhirnya komite ini mengumpulkan dana sebesar 118.774,73 yen.

Sumbangan terbesar diberikan oleh perusahaan-perusahaan dari India, Konsulat Mesir, Konsulat Afghanistan, serta sumbangan dari Asosiasi Muslim Tartar-Turki. Pada Jumat, 30 November 1934,pembangunan masjid dimulai. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Mr Muhammad Bochia selaku penanggung jawab pembangunan masjid.

Turki tradisional

Beberapa sumber menyebutkan bahwa perancang Masjid Muslim Kobe adalah seorang arsitek asal Ceko bernama Jan Josef Svagr yang telah merancang banyak bangunan bergaya Barat di Jepang. Svagr merancang masjid ini dengan gaya Turki tradisional.

Struktur bangunan yang tinggi dan kubah utamanya yang besar merupakan gaya khas Turki tradisional, tetapi bentuk jendelanya yang meruncing akan mengingatkan kita pada bentuk jendela yang terdapat di masjid-masjid bergaya India atau Persia. Dua buah menara kembar yang mengapit pintu utama masjid dan kubah utama tunggal akan mengingatkan kita pada Masjid Sunitskaia di Vladikavkaz, Rusia.

Pengerjaan bangunan masjid dipercayakan kepada perusahaan konstruksi asal Jepang Takenaka dan diawasi oleh Mr Vallynoor Mohamed. Biaya yang terpakai untuk pembangunan masjid, sekolah, dan bangunan lainnya mencapai 87.302,25 yen. Sisa dari biaya pembangunan digunakan untuk investasi. Mereka membeli properti berupa beberapa bangunan di Yamato-dori, Ijinkan, dan Kitano-cho.

Setelah permohonan izin penggunaan masjid disetujui oleh Kekaisaran Jepang, pada Jumat, 2 Agustus 1935 Masjid Muslim Kobe diresmikan oleh Mr Ferozuddin dan dihadiri oleh umat Muslim dari berbagai negara seperti India, Rusia, Asia Tengah, Cina, Jepang, Indonesia, Turki, Arab Saudi, Afghanistan, dan Mesir.

Setelah memberikan pidato pembukaan, Mr Ferozuddin kemudian membuka pintu masjid dengan menggunakan kunci perak dan naik ke puncak menara untuk mengumandangkan azan. Azan itu merupakan seruan pelaksanaan shalat Jumat yang akan dilaksanakan pertama kalinya di masjid baru itu. Shalat Jumat kemudian dipimpin oleh Mohamed Shamguni, Imam pertama Masjid Muslim Kobe.

Masjid Kobe setelah itu terkenal dengan sebutan ‘Mecca of Japan’.

Selain sebagai tempat pelaksanaan shalat dan pembelajaran Islam, banyak kegiatan keagamaan lainnya dilakukan di masjid ini. Pada bulan Ramadlan contohnya, acara berbuka puasa bersama (ifthar jamai) dan beberapa perayaan selalu dilakukan di basement masjid.

Berbagai jenis makanan dan minuman dari berbagai negeri selalu dihidangkan sebagai menu berbuka puasa. Seluruh bagian masjid selalu penuh oleh jamaah ketika shalat tarawih dilaksanakan. Begitu juga dengan pelaksanaan shalat Id. Masjid Muslim Kobe selalu menjadi pusat kegiatan keagamaan umat Islam yang tinggal Kobe pada saat itu.

Utuh Meski Dibom Amerika dan Diguncang Gempa

Tahun 1945, Jepang terlibat perang Dunia Kedua. penyerangan Jepang atas pelabuhan Pearl Harbour di Amerika telah membuat pemerintah Amerika memutuskan untuk menjatuhkan bom atom pertama kali dalam sebuah peperangan.

Dan Jepang pun kalah. Dua kotanya, Nagasaki dan Hiroshima dibom Atom oleh Amerika. Saat itu, kota Kobe juga tidak ketinggalan menerima akibatnya. Boleh dibilang Kobe menjadi rata dengan tanah.

Ketika bangunan di sekitarnya hampir rata dengan tanah, Masjid Muslim Kobe tetap berdiri tegak. Masjid ini hanya mengalami keretakan pada dinding luar dan semua kaca jendelanya pecah. Bagian luar masjid menjadi agak hitam karena asap serangan bom. Tentara Jepang yang berlindung di basement masjid selamat dari ancaman bom, begitu juga dengan senjata-senjata yang disembunyikannya. Masjid ini kemudian menjadi tempat pengungsian korban perang.

Pemerintah Arab Saudi dan Kuwait menyumbang dana renovasi dalam jumlah yang besar. Kaca-kaca jendela yang pecah diganti dengan kaca-kaca jendela baru yang didatangkan langsung dari Jerman. Sebuah lampu hias baru digantungkan di tengah ruang shalat utama. Sistem pengatur suhu ruangan lalu dipasang di masjid ini.

Sekolah yang hancur akibat perang kembali direnovasi dan beberapa bangunan tambahan pun mulai dibangun. Umat Islam kembali menikmati kegiatan-kegiatan keagamaan mereka di Masjid Muslim Kobe.

Krisis keuangan sering menghampiri kas komite masjid. Pajak bangunan yang tinggi membuat komite masjid harus mengeluarkan cukup banyak biaya dari kasnya. Beruntung, banyak donatur yang siap memberikan uluran tangannya untuk menyelesaikan masalah keuangan pembangunan dan renovasi masjid ini. Donasinya bahkan bisa membuat Masjid Muslim Kobe menjadi semakin berkembang.

Kekokohan Masjid Kobe diuji lagi dengan Gempa Bumi paling dahsyat tahun 1995. Tepatnya pada pukul 05.46 Selasa, 17 Januari 1995. Gempa ini sebenarnya bukan hanya menimpa Kobe saja, tapi juga kawasan sekitarnya seperti South Hyogo, Hyogo-ken Nanbu dan lainnya.

Para ahli menyebutkan bahwa gempa itu disebabkan oleh tiga buah lempeng yang saling bertabrakan, yaitu lempeng Filipina, lempeng Pasifik, dan lempeng Eurasia.

Meski hanya berlangsung 20 detik, namun gempa ini memakan korban jiwa sebanyak 6.433 orang, yang sebagian besar merupakan penduduk kota Kobe. Selain itu gempa Kobe juga mengakibatkan kerusakan besar kota seluas 20 km dari pusat gempa.

Gempa bumi besar Hanshin-Awaji merupakan gempa bumi terburuk di Jepang sejak Gempa bumi besar Kanto 1923 yang menelan korban jiwa 140.000 orang.

Namun hingga kini masjid Kobe tetap berdiri kokoh dan tegak, seakan tidak tergoyahkan meski didera berbagai bencana. Semoga dakwah Islam di Jepang setegar masjid ini.

About travelyuk

indonesia hotel reservation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: