RSS Feed

Gladiator dari Suku Sasak

Posted on

PERMAINAN peresean sesungguhnya lebih mirip aksi gladiator zaman Romawi Kuno, tapi minus pedang. Senjata yang dipakai dalamperesean hanyalah penjalin (rotan) untuk pemukul, dan perisai (ende) yang terbuat dari kayu yang dilapisi kulit sapi.

Di Desa Monjok, Kecamatan Selaparan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, sore itu berkumpul pemuda petarung. Ta buhan gamelan mengiringi tarian peresean dan mengundang warga berkumpul ke tengah lapangan desa setempat yang saat itu sedang menggelar festival pereseanse-Kota Mataram.

Pertarungan peresean sangat agresif. Diiringi tabuhan gamelan yang provokatif dan menggugah semangat tarung. Alat musik pengiringnya antara lain kendang, suling, gong, rincik/simbal, serta kajar.

Di arena peresean, para petarung sa ling serang untuk menjatuhkan lawan. Sesekali mereka menari-nari setelah mendapatkan sabetan penjalin untuk mengaburkan rasa sakit.

Memukul kepala lawan menjadi sasaran utama agar meraih kemenangan mutlak. Penonton peresean selalu terbawa emosi perang dan andrenalinnya tergugah saat menyaksikan para petarung saling serang.

Petarung yang andal (pepadu) meng akhiri pertarungannya dengan bekas pukulan penjalin yang mengerikan. Bilur-bilur merah tampak pada kulit bagian punggung dan tangan, bahkan ada yang sampai menyobek lapisan kulit. Beberapa pulang dengan kepala bocor dan harus mendapatkan jahitan tim medis yang sudah siap di sekitar arena peresean.

“Peresean ini warisan nenek moyang kami. Tradisi ini akan kita lestarikan selama-lamanya,” kata Lurah Monjok, Budi Wartono, pekan lalu.

Pepadu tidak juga mengutamakan menang atau kalah. Mereka juga tidak mengejar hadiah. Pepadu bertarung untuk hiburan.

Di arena peresean, pepadu lebih menonjolkan spor tivitas dan mengasah mental. Meskipun berdarah-darah, pertarungan tidak akan dilanjutkan di luar arena. Tidak ada istilah balas dendam. Sudah dijamin, adu ketangkasan yang berisiko tinggi itu hanya terjadi di dalam arena.

Peresean dipimpin seorang wasit (pekembar). Pekembar ada dua, yaitu wasit pinggir (pekembar sedi) yang mencari pasangan petarung yang akan diadu di arena, dan wasit tengah (pekembar tengah) yang memimpin pertandingan.

Pekembar yang memimpin pertarungan akan membunyikan peluit saat akan menghentikan pertarungan. Peresean untuk pemula hanya berlangsung tiga ronde. Tetapi untuk level senior, para pepadu akan bermain empat ronde. Pemula biasanya hanya mencari lawan tanding secara acak di sekitar arena pertarungan. Biasanya ditunjuk dari penonton yang semuanya memang sudah siap bertarung jika mendapatkan lawan tanding yang seimbang.

Untuk event besar, para pepadu luar daerah dari seluruh Nusa Tenggara Barat akan diundang. Biasanya saat digelar acara seperti itu, para pepadu senior akan turun gunung mewakili daerah masing-masing.

Jika para pepadu senior bertarung, sudah dijamin pertarungan akan mene gangkan. Jika pepadu ditunjuk bertarung dan diberi lawan, mereka pun pantang menolak. Pepadu akan masuk arena dan memulai pertarungan.

Peresean dari suku Sasak tidak hanya mengandalkan mental, tetapi juga fi sik, teknik bertarung, dan mistis. Sebab, pepadu tidak dilarang membawa jimat kekebalan dan arena peresean kerap dipakai untuk adu sakti antar-pepadu.

Sering kali terjadi, ketika pepadu sudah berada di dalam arena, pertarungan tidak dilanjutkan karena salah satu di antara pepadu merasa kalah secara mistis. Senjata penjalin yang dipakainya berubah menjadi lembek dan tidak bisa dipakai bertarung.

Pertarungan peresean juga merupakan ajang mempertahankan harga diri pepadu. Tiap pepadu memiliki teknik untuk menghindari kekalahan yang memalukan. Untuk itu, mereka mengikat kepala memakai sapuq dengan teknik tersendiri agar ketika terkena kepala dan membuat bocor, tidak terlihat oleh penonton.

Pepadu yang sudah terkenal di Pulau Lombok biasanya memiliki nama julukan. Seperti sebutan Arya Kamandanu dan Piring Nadi. Julukan tersebut diberikan sesuai dengan kelihaian bertarung di arena peresean.

Salah satu pepadu yang memiliki julukan Piring Nadi menceritakan penga lamannya, bahwa saat bertarung di arena, ia menggunakan jurus bertarung untuk mengalahkan lawan. Salah satu jurus sederhananya adalah membuat pukulan tipuan agar bisa melukai lawan.

Pepadu yang memiliki nama asli Supardi itu sudah ikut peresean sejak masih duduk di bangku kelas 2 SD. Keteram pilannya bermain peresean tidak luput dari ajaran orang tuanya yang juga seorang pepadu.

Sebagai pepadu yang cukup disegani di Kota Mataram, ia mengaku takut juga dengan rasa sakit. Tetapi, rasa itu sudah dianggap hal yang biasa sehingga saat berada di arena ia selalu agresif menyerang lawan, mengalahkan sakit akibat luka yang menganga.

Supardi sudah pernah mendapatkan tiga jahitan di kepalanya karena terkena sabetan rotan. Dia juga pernah terkapar di luar arena tanpa sebab. Lawan tandingnya di arena menyerangnya secara mistis. Tetapi, hal itu bisa segera diobati dengan memandikannya di dalam arena peresean.

“Permainan peresean ini butuh mental, fisik, dan persiapan yang baik. Jangan pernah berani buka arena kalau tidak punya mental dan fi sik yang bagus,” ungkapnya.

Peresean terus lestari di Bumi Gora. Hingga sekarang, seni tradisi masa lampau itu masih dimainkan paling tidak saat perayaan hari kemerdekaan, 17 Agustus. Tujuannya bukan untuk jago-jagoan, melainkan hanya untuk hiburan.(Sulistiono/mediaindonesia)

About travelyuk

indonesia hotel reservation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: