RSS Feed

Air Terjun Sendang Gila

Posted on

Jangan mengaku pencinta air terjun jika belum melihat Air Terjun Sendang Gila”, ujar seorang teman. Apa memang benar layak dilihat, tanya saya penuh keraguan. Berada di pulau yang tersohor karena kecantikan pantainya, aktivitas trekking berburu air terjun rasanya tidak menarik. Namun kata-kata teman tadi rupanya berhasil memicu rasa penasaran saya.

Sendang Gila (dilafalkan ”Gile” oleh masyarakat setempat) yang menjadi daya tarik Lombok ini terletak di Desa Senaru, salah satu pintu masuk pendakian ke Gunung Rinjani. Berada di ketinggian 600 meter di atas permukaan laut, kawasan ini ramai disatroni para pendaki di musim panjat gunung. Sayangnya, angkutan umum yang melayani rute ke Senaru kini terbilang langka. Alternatif transportasi yang tersisa adalah naik mobil sewaan atau membeli paket yang ditawarkan biro perjalanan. Saya memilih menggunakan sepeda motor supaya bisa lebih leluasa menikmati perjalanan. Lagipula saya datang seorang diri. Penyewaan motor mudah ditemukan di banyak daerah touristy seperti Senggigi atau Mataram. Jarak Mataram – Senaru kurang lebih dua jam.

Gerbang masuk Sendang Gila berada persis di pinggir jalan. Tak sulit menemukannya. Sejumlah warga lokal menawarkan jasa memandu saya ke air terjun pertama dan kedua. Ternyata ada dua air terjun: Sendang Gila dan Tiu Kelep. Kejutan yang menyenangkan. Para pemandu mematok harga Rp30 ribu untuk rute ke Sendang Gila dan Rp60 ribu ke Tiu Kelep. Melihat kondisi jalan yang sudah dilengkapi tangga, saya menolak halus tawaran mereka.Keberadaan tangga semen memang cukup membantu pejalan kaki—rute jelas, menapak jadi mudah, dan jalan tidak licin saat hujan. Namun nuansanya jadi kurang alami. Setelah berjalan turun selama 20 menit akhirnya saya sampai juga di lokasi. Kabut uap air membuat Sendang Gila terlihat magis.

Saya kesulitan mengambil gambar akibat uap tebal yang melayang-layang di udara. Air terjun terdiri dari dua tingkat. Bentuknya mirip bangunan berundak. Air meluncur dari tebing yang diselimuti tumbuhan merambat, membentuk tirai tipis yang berkilauan saat tersorot sinar mentari, kemudian mengalir ke sungai sempit yang dangkal.

Keadaan masih sepi. Tak ada orang kecuali saya. Mungkin karena saya tiba terlalu pagi. Atau barangkali karena saya berkun-jung di hari kerja. Bahkan loket tiket di pintu masuk masih tutup. Kelar memotret, saya duduk sejenak untuk menyantap camilan. Lalu muncullah Joni, pemandu muda yang ingin mengantarkan saya ke Tiu Kelep (air terjun kedua). Saya sempat bertanya apakah keindahan Tiu Kelep setara dengan Sendang Gila. Kata Joni, pemandangan Tiu Kelep lebih menarik, plus kita bisa mandi di sungainya. Setelah tawar-menawar, akhirnya kami sepakat di harga Rp50 ribu.

Medan yang saya tempuh kali ini lebih menantang. Kami menyusuri sungai irigasi, setelah itu melewati jembatan bertingkat dua yang berfungsi ganda sebagai alat penyeberangan sekaligus saluran air. Tak mudah untuk melang-kah, sebab jembatan memiliki lubang-lubang cetakan berbentuk kotak yang berbaris rapi dari ujung ke ujung. Kita bisa melihat air yang mengalir deras dari lubang-lubang ini. Sungai di bawah jembatan juga tak kalah deras. Joni bercerita, bila air tidak deras, dia biasanya mengajak wisatawan untuk mengambil jalan pintas melewati terowongan irigasi.

Sungai irigasi yang dibangun pada 1978 ini terus menyertai rute kami. Pepohonan rindang yang tumbuh di kedua sisi jalan membuat suhu terasa sejuk. Di luar jembatan maut tadi, rute yang kami lewati terbilang ringan. Hanya sedikit tanjakan yang mesti didaki. Alhasil, stamina saya pun tidak banyak terkuras. Namun jangan pernah berpikir untuk berjalan seorang diri di tempat ini. Di beberapa titik terdapat jalan bercabang yang berpotensi menyesatkan orang awam.

Selang 20 menit, kami sampai ke tepian sungai, dan Joni langsung meminta saya untuk mencopot sepatu. Ternyata kami harus menyeberangi sungai berbatu. Atraksi yang menyenangkan. Joni berjalan di depan. Saya berjalan lambat karena takut terpe-leset dan menjatuhkan kamera. Air sungai membasahi kaki saya hingga sebatas betis.

Saya sempat berhenti sejenak di sebuah batu berukuran besar guna mengambil gambar dua turis asing yang sedang menyeberangi sungai. Dihadang air deras, keduanya terlihat ragu-ragu. Pemandu mereka kemudian mengarahkan mereka ke sisi kiri sungai di mana airnya cukup dangkal. Banyak tontonan menarik lain di sekitar sungai. Mulai dari bebatuan yang membentuk jeram dan membelah sungai, hingga pohon-pohon rindang aneka jenis yang tumbuh saling berkelindan. Saya beberapa kali berhenti untuk mengabadikan pemandangan seraya menghirup hawa sejuk pegunungan dan menikmati kesegaran air sungai yang membasahi kaki. Joni pun saya minta untuk berpose layaknya model.

Setelah berjalan beberapa saat, sungai kembali menghadang dan saya pun terpaksa membuka sepatu. Perlahan mulai terdengar sayup-sayup suara deru air memecah keheningan.
Ketika akhirnya sampai, saya hanya bisa tertegun. Tiu Kelep bukanlah air terjun tunggal. Ia punya banyak cabang. Aliran utama berada di posisi paling atas, sementara di bawahnya terdapat beberapa aliran lain yang ukurannya lebih kecil. Saya seperti melihat bendungan bocor yang menyemprotkan air dari banyak lubang. Uap air yang beterbangan mulai membutakan kacamata saya.

Dinding di sekitar air terjun berbentuk cekungan. Warna dinding tidak jelas terlihat akibat terhalang tumbuhan yang seolah merayap semaunya. ”Ndak rugi kamu memaksa saya ke sini”, ujar saya kepada Joni yang kemudian dibalas dengan senyuman.

Sayangnya, meski indah, air terjun ini sulit diabadikan. Saya tak bisa mencari tempat aman untuk mendirikan tripod kamera. Baru beberapa detik berdiri, seluruh tubuh sudah basah kuyup oleh uap air yang terbawa angin. Rasanya seperti terguyur hujan dari samping.

Saya mulai memutar otak, mencari cara untuk merekam kemolekan Tiu Kelep tanpa harus tersiram olehnya. Namun tak ada jalan lain. Saya segera mengeluarkan kamera, lalu mengambil beberapa foto. Hasilnya? Permukaan lensa kecipratan air sehingga hasil foto ternoda bintik-bintik air.

Setelah 20 menit, kaus basah kuyup dan perut mulai bernyanyi. Saya dan Joni mengganjal lapar dengan menyantap bekal biskuit yang tersisa di tas. Setelah itu kami mulai berangsur menjauh. Dalam perjalanan pulang, Joni mengajak saya beren-dam di sungai. Air di sungai bersumber dari air terjun yang mengalir melewati bebatuan kemudian membentuk ceruk. Tergoda oleh kejernihannya, saya pun segera membuka pakaian dan mencemplungkan diri.

Getting there
Berada di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani, Desa Senaru merupakan salah satu pintu pendakian menuju Danau Segara Anak dan puncak Rinjani. Kita bisa menjangkaunya menggunakan mobil sewaan ataupun taksi dari Mataram. Tarif taksi sekitar Rp360.000, tapi umumnya bisa ditawar. Bus juga tersedia, namun jadwal keberangkatannya tidak menentu. Penerbangan Jakarta-Mataram dilayani antara lain oleh Merpati Nusantara (Rp1.760.600), Garuda Indonesia (Rp2.246.000), dan Lion Air (Rp1.238.200)—semua harga pp di Juli.

Where to stay
Ada banyak alternatif akomodasi di Senaru. Tarif berkisar antara Rp125.000 untuk kelas menengah hingga Rp400.000 untuk kelas atas. Beberapa yang bisa dipilih adalah Pondok Indah (T.0817 578 8018, mulai dari Rp125.000), Pondok Senaru (rinjaninationalpark.com, mulai dari Rp400.000),
dan Rinjani Mountain Garden (T.0818 569 730,
mulai dari Rp130.000).

Tips
Tiap penginapan biasanya memiliki restoran dengan koleksi menu Indonesia dan internasional. Jika ingin melanjutkan perjalanan ke Rinjani, Anda bisa menghubungi Rinjani Trekking Club
(www.rinjanitrekkingclub.com) atau staf di penginapan. Rinjani adalah gunung berapi yang masih aktif. Pastikan Anda mencari info tentang kondisinya sebelum berangkat.

(jalanjalan.co.id)

About travelyuk

indonesia hotel reservation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: