RSS Feed

The Magic of Southern Lombok

Posted on

Saya berdiri di bukit yang menyimpan legenda termasyhur di Lombok: Putri Mandalika. Di tempat inilah sang putri raja menceburkan diri-nya ke laut. Syahdan, di masanya, ia adalah bunga yang merekah paling sempurna. Kecantikannya begitu tersohor hingga memikat pangeran-pangeran dari penjuru negeri. Namun persaingan merebut hati sang putri mendorong Lombok ke jurang perpecahan hingga menempatkan Mandalika dalam perangkap dilema. Ia tak sanggup memilih, sebab para kandidat yang tersingkir dari bursa jodohnya pasti akan murka.

Mandalika lalu berlari ke tebing bukit di Pantai Seger untuk mengakhiri hidupnya. Di detik-detik terakhir sebelum melompat, ia berjanji untuk kembali sekali setiap setahun dalam wujud ribuan nyale atau cacing laut. Hanya dengan cara inilah semua orang bisa memilikinya. Sebuah solusi pamungkas dari negeri dongeng.

Dan benar, Mandalika bunuh diri. Ia mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan banyak nyawa. Atas jasanya itulah sosoknya dipuja, dicinta, dan dikenang.Sesuai janjinya, sang putri kembali dalam bentuk ribuan nyale, biasanya di sekitar Februari, lima hari pascapurnama. Sebenarnya nyale bisa ditemukan di seluruh pantai selatan Lombok yang membentang sepanjang lebih dari 70 kilometer, namun berkat sejarahnya, Pantai Seger selalu menjadi pusat dari semua kemeriahan. Masyarakat berkumpul sejak malam guna menangkap nyale yang merayap ke pesisir menjelang fajar. Hewan-hewan mungil yang mengandung protein tinggi ini biasanya dimasak dan dinikmati bersama-sama. Melihat tekstur nyale yang berlendir, sulit membayangkan ia merupakan reinkarnasi dari putri paling ayu di seantero Lombok.

Pantai Seger terletak di daerah Kuta di selatan Lombok. Jika tiap Februari ia diserbu para pemburu cacing, di bulan-bulan lainnya, terutama di musim panas, pantai berpasir putih ini lazim disatroni para pencinta selancar.

Saya masih berdiri di atas bukit yang menyimpan obituari Mandalika. Ombak menderu di sela-sela bebatuan. Di sudut lainnya terlihat deretan bukit hijau yang memberi warna kontras pada langit senja. Tak ada peselancar yang bercanda dengan ombak yang kebetulan sedang jinak. Yang terlihat hanya bebe-rapa wisatawan berbikini asal Rusia.

Segerombol anak kecil membuntuti saya. Mereka menawar-kan cenderamata dengan penuh semangat. Awalnya persuasif, tapi lama-kelamaan agak memaksa. Rizal, salah seorang pedagang cilik, mengaku tinggal di Dusun Sade, perkampungan Suku Sasak yang berjarak tujuh kilometer dari pantai. Tak berhasil menjajakan kaus dan gelang, bocah berusia 13 tahun ini kemudian menyodorkan botol berisi pasir. Ia tak mau pergi sebelum barang dagangannya dibeli. Akhirnya saya membeli satu botol pasir guna menambah koleksi pasir di rumah. Rizal tersenyum. Saya terbebas dari kerumunan pedagang.

Saya berkunjung ke Kuta bersama Saiful dan Wayan dari operator tur Lombok Network Holidays. Kawasan ini terkenal akan koleksi pantainya yang menawan. Bisa dibilang, Kuta adalah alasan kenapa Lombok jadi tujuan liburan para pencinta pantai.

Di perjalanan, saya sempat mampir di Desa Puyung guna mencicipi nasi Puyung. Menu tradisional ini sebenarnya bisa ditemukan di sejumlah warung di Mataram, tapi cita rasa autentik hanya bisa didapat di tanah kelahirannya. Salah satu tempat yang menyajikannya adalah Warung Inaq Esun (Jl.Raya Puyung, Jonggal, Lombok Tengah, T.0819 1713 6812).

Nasi Puyung dipatok Rp7.000 per porsi. Nasinya disajikan dalam wadah piring rotan beralaskan daun pisang, dengan lauk terdiri dari ayam kampung goreng yang disuwir, potongan ayam yang ditumis dengan cabai, ditambah kedelai putih goreng. “Aduk ayam tumisnya, supaya minyak pedasnya merata ke seluruh nasi,” demikian Wayan menginstruksikan metode terbaik menikmati nasi Puyung. Nasi Puyung kadang disebut juga nasi balap. Konon, dulu para pedagang nasi dari Desa Puyung gemar beradu cepat naik sepeda saat membawa dagangannya.

Usai menyambangi Pantai Seger, esok paginya saya menerus-kan penjelajahan ke Tanjung Aan. Saya tidak sendiri. Beberapa peselancar juga ingin menyapa ombak di pagi yang cerah ini. Langit mulai memerah. Gelombang ganas terus menerjang pantai. Siluet Gunung Rinjani terlihat jelas dari kejauhan. Anak Rinjani, Gunung Barujari, sedang rajin menyemburkan asap tebal, karena itulah aktivitas pendakian untuk sementara ditutup.

Hampir semua pantai di selatan Lombok diberkahi ombak besar, dan Tanjung Aan adalah salah satu yang terindah. Garis pantai yang panjang dengan gradasi air laut yang menawan membuatnya jadi favorit pelancong. Bukit yang menjulang di tengah membelah pantai ini menjadi dua bagian. Uniknya, kedua bagian tersebut memiliki tekstur pasir yang berbeda: berbentuk butiran merica di satu sisi, dan sehalus bedak di sisi lainnya.

Jika Tanjung Aan jadi yang terindah, maka Gerupuk adalah surganya para peselancar. Terletak di timur Kuta, pantai ini adalah langganan kaum penakluk ombak. Pak Basta, salah seorang pemilik perahu, membawa kami ke tengah laut guna menyaksi-kan aksi mereka. Kelebihan Gerupuk adalah, ia bisa dinikmati peselancar dari semua level. Bagian onshore disemuti kelas rookie, sedangkan sisi offshore yang mengembuskan ombak tinggi menjadi sarang para senior. Tamu yang selalu ramai membuat Pak Basta meninggalkan profesinya sebagai nelayan. Koceknya lebih subur sebagai pengantar manusia pembawa papan.

Di Gerupuk, olahraga selancar bukanlah dominasi turis asing. Banyak atlet lokal yang kerap merajai turnamen-turnamen di tingkat Lombok. “Belasan tahun lalu, masih sulit memiliki papan selancar,” terang Pak Basta. Remaja setempat biasanya berlatih bergantian menggunakan papan yang ditinggalkan wisatawan. Tapi kini kesempatan sudah lebih terbuka. Kelas-kelas berselancar yang tumbuh menjamur menjadi sasana penggemblengan bagi pemuda desa yang bermimpi menjadi atlet kondang.

Di pulau yang terkenal akan menu ayam bakar-nya, ternyata ada satu restoran vegetarian yang sukses mencuri perhatian. Namanya Ashtari, rumah makan yang berdiri sekitar dua kilometer dari Kuta. Walaupun jaraknya dekat, medan untuk menjangkaunya cukup ekstrem. Ashtari bertengger di punggung bukit dengan akses jalan yang sangat buruk. Sebagian ruas bahkan tak bisa dilalui oleh kendaraan. Pemandu saya menjulukinya ”jalan aborsi”.

Sampai di lokasi, perjuangan berat saya terbayar lunas. Ashtari menawarkan pemandangan yang sangat menawan dari balkonnya. Angin sepoi-sepoi, hamparan laut biru, serta deretan bukit menghijau menemani acara santap siang saya. Arsitektur restoran merupakan kombinasi manis antara gaya India dan Sasak. Semerbak wangi dupa memenuhi area makan. Setiap tamu harus mencopot alas kaki mereka sebelum masuk.

Helen Morgan, koki sekaligus pemilik restoran, sudah mene-tap di Lombok selama lebih dari 10 tahun, namun propertinya baru dibuka sejak lima tahun lalu. Pilihan menu vegetarian sepertinya tidak didasari pada pertimbangan pasar, melainkan preferensi personal – Helen telah menjadi vegetarian selama lebih dari 34 tahun.

Dapur Ashtari sepenuhnya mengandalkan bahan-bahan lokal yang ditemukan di pasar tradisional. Koleksi menunya antara lain focaccia berisi salad wortel, tauge, dan tempe; milkshake yang dibuat dari sari kelapa; serta samosa yang disisipi kentang. Setiap harinya Helen menampilkan satu menu of the day yang selalu berbeda. Saat saya datang, menu yang tersaji adalah “seasoned pilau rice with side dish of fresh vegetable soup and potato tofu fritters”, yang jika diterjemahkan menjadi: nasi goreng vegetarian dengan perkedel tahu, kentang, dan sayur labu kuning.

“Do you miss your meat?” tanya Helen sebelum saya beranjak dari restoran. “A little bit but I don’t have a crave,” jawab saya yang kemudian disambutnya dengan tawa lebar.

Bermodal perut kenyang, saya meluncur lima kilometer ke Pantai Mawun. Jaraknya sangat dekat, tapi akibat kondisi jalan yang buruk, waktu tempuh membengkak hingga empat kali lipat. Mobil saya sesekali harus mengalah pada kawanan kerbau yang melintas. Papan-papan bertuliskan ”Land for Sale” berkali-kali terlihat di pinggir jalan. Lombok memang sedang haus investasi. Pulau ini punya potensi yang sangat menjanjikan sebagai destinasi wisata guna menyaingi Bali, apalagi jika pembangunan bandara internasional di Lombok Tengah berhasil dirampungkan akhir tahun ini.
Akses jalan yang buruk membuat Mawun minim turis. Sepi. Hanya ada segelintir wisatawan asing asyik berjemur di atas pasir. Garis pantainya melengkung indah dengan warna air bergradasi biru hijau. Sekilas saya melihat butiran pasir merah seperti di Pantai Merah di Komodo, sayangnya warnanya kurang jelas.

Saya kembali berjumpa Rizal, bocah penjaja gelang dari Pantai Seger. Rupanya ia bergerilya, berdagang dari satu tempat ke tempat lain. Strategi jualannya tetap sama: merayu, lalu memaksa. Sadar upayanya gagal, ia akhirnya memilih menjadi teman berenang saya.

Kecantikan pesisir selatan seolah tak ada habisnya. Sekitar tujuh kilometer dari Mawun, saya menemukan Selong Belanak. Tapi berbeda dengan Mawun, ia terlihat lebih hidup. Terletak tepat di depan perkampungan penduduk, pantai ini ramai oleh anak-anak yang bermain di sela-sela perahu nelayan. Pasir putih lembut yang membentang panjang disulap para pemuda desa menjadi sirkuit balap motor. Hanya ada beberapa wisatawan yang membawa papan selancar di sini. Selong Belanak dalam banyak hal terlihat mirip Parangtritis di Yogyakarta.

Getting There
Penerbangan Jakarta ke Lombok dilayani antara lain oleh Merpati Nusantara (Rp1.760.600), Garuda Indonesia (Rp2.246.000), dan Lion Air (Rp1.238.200)—semua harga pp di Juli. Kuta terletak di pesisir selatan pulau. Cara paling praktis untuk mengeks-plorasinya adalah dengan menyewa mobil, sebab transportasi umum masih sangat terbatas. Salah satu operator tur yang siap membantu Anda adalah Lombok Network Holidays (Jl.Intermilan 87, Puri Meninting, T.0370 662 8139, http://www.lombok-network.com).

When to Go
Lombok memiliki banyak perayaan budaya yang menarik: Bau Nyale di Februari; Festival Senggigi di Juli; dan Perang Topat di antara November dan Desember. Musim panas sekitar Mei – September adalah waktu yang ideal untuk menjelajahi kawasan pesisir.

Where to Stay
Novotel Lombok merupakan satu-satunya hotel jaringan internasional bintang empat di daerah Kuta. Ia menawarkan kamar dan resor bergaya rumah tradisional Sasak. Lokasinya tepat mem-
belakangi Pantai Seger, arena utama bagi perhelatan Festival Bau Nyale [Mandalika Resort, Pantai Putri Nyale, Pujut, Lombok Tengah, T.0370 653 333, http://www.novotel.com, mulai dari Rp1.140.000]. Untuk tarif yang lebih terjangkau, Anda bisa mencoba Surfers Inn. Terletak sekitar 600 meter sebelah timur persimpangan Kuta, penginapan yang memiliki 25 kamar ini sangat populer di kalangan peselancar [T.0370 655 582, mulai dari Rp130.000 untuk kamar dengan kipas angin].

What to Do
Beach hopping dan berenang adalah aktivitas terbaik di selatan Lombok. Jika ingin berselancar, pergilah ke Pantai Seger, Tanjung Aan, atau Pantai Gerupuk yang terletak di arah timur dari pertigaan Kuta. Sedangkan di arah baratnya terda-pat Pantai Mawun dan Selong Belanak yang relatif masih perawan. Kelas berselancar banyak ditawarkan operator di kawasan Kuta, salah satunya Kimen Surf [Jl.Raya Kuta, Mawun, Pujut, T.0370 655 064]. Dua kekayaan kuliner yang wajib dicicipi adalah nasi Puyung di Desa Puyung dan menu vegetarian di Ashtari yang berjarak dua kilometer dari Kuta. (jalanjalan.co.id)

About travelyuk

indonesia hotel reservation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: