RSS Feed

10 Reason to Love Lombok

Posted on

Nama Gili Nanggu memang kalah tenar dibanding Gili Trawangan atau Gili Air. Namun justru berkat statusnya yang minim pamor itulah ia jadi menarik dikunjungi. Satu yang pasti, pesisir maupun area diving di pulau ini relatif aman dari serbuan turis, jadi Anda bisa leluasa berwisata.

Gili Nanggu terletak sekitar 60 kilometer sisi barat daya Mataram, terapit oleh Gili Tangkong dan Gili Sudak. Dengan luas hanya 12,5 hektare, pulau ini bisa habis dijelajahi dalam waktu sehari. Gili Nanggu dapat dicapai menggunakan perahu motor selama 15 menit dari Pelabuhan Tawun. Opsi rute lainnya adalah lewat Pelabuhan Lembar dengan waktu tempuh kira-kira 20 menit.

Hamparan pasir putih dan papan bertuliskan ”Welcome to Gili Nanggu” menyambut pengunjung di dermaga. Suasana pulau sangat hening. Tak banyak orang berkeliaran, baik warga lokal mau-pun pelancong asing. Sepi, indah, dan asri, tak heran pulau ini dijuluki paradise island.

Hanya ada satu penginapan di sini, yakni Gili Nanggu Cottages & Bungalow. Desain bangunannya mengadopsi arsi-tektur rumah tradisional Sasak, suku asli Lombok. Bentuknya rumah panggung dengan atap mirip kubah. Angin laut menembus dinding dan menyejukkan interior penginapan.

Naik kano dan bersepeda adalah cara paling seru untuk menyerap kemolekan Gili Nanggu. Tapi bagi pencinta kehidupan laut, aktivitas paling menarik di sini tentu saja snorkeling dan diving. Alam bawah laut pulau masih sangat terawat. Ikan aneka warna dan jenis, mulai dari ikan badut hingga Napoleon, berenang lincah di antara koral. Cukup sebarkan potongan kecil roti, dijamin para biota laut tersebut akan langsung terpikat untuk menghampiri Anda. Peralatan snorkeling disewakan dengan tarif Rp75 ribu.

Guna mendukung usaha pelestarian lingkungan dan mengukuhkan moto perusahaan sebagai penginapan eco-friendly, sejak 1995 Gili Nanggu Cottages & Bungalow membuka sebuah kawasan konservasi penyu yang hingga kini sudah menetaskan lebih dari 10 ribu telur. Dilandasi kesadaran usaha ini tak mungkin berhasil tanpa melibatkan publik, pihak cottage mengundang para pengunjung pulau untuk ikut serta dalam prosesi pelepasan tukik ke laut.

Sekotong

Lombok merupakan produsen mutiara berkategori south sea pearl (jenis terbaik) yang berjasa menempatkan Indonesia dalam daftar negara penghasil mutiara terbesar di dunia, bersama Australia, Cina, dan Jepang. Dari semua pusat peternakan mutiara di Lombok, Sekotong adalah yang paling masyhur.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Nusa Tenggara Barat membuka kawasan Sekotong sebagai destinasi wisata pelesir kedua setelah Senggigi. Daerah ini masih tergolong asri. Hamparan pasir putih dan hutan lebat membalut pulau tanpa banyak terusik oleh kehadiran bangunan. Hanya segelintir resor dan penginapan yang berdiri di sini; beberapa masih dalam tahap konstruksi. Kalau pun ada pengunjung, paling hanya orang-orang sekitar yang datang untuk menyalurkan hobi memancing.

Satu alasan kenapa Sekotong minim turis adalah rute untuk menjangkaunya cukup menguras keringat. Pengunjung harus menyusuri jalan penuh tikungan dari Mataram selama tiga jam lebih.

Salah satu modus budidaya mutiara di Sekotong adalah dengan menyuntikkan inti nukleus mutiara ke dalam badan kerang. Praktik ini bisa disaksikan misalnya di PT.Budaya Mutiara, salah satu perusahaan mutiara terbesar di Sekotong yang sudah beroperasi sejak 1989. Jika ingin membeli mutiara, pengunjung disarankan pergi ke kawasan Sekarbela yang berjarak sekitar empat kilometer dari Mataram.

Sukarara

Satu alasan kenapa kain tenun mudah ditemu-kan di hampir semua toko suvenir di Lombok adalah karena pulau ini merupakan penghasil tenun kualitas wahid. Salah satu sentra produsen tenun adalah Desa Sukarara (dibaca ”Sukarare”).
Di Sukarara, kain tenun adalah produk home industry, bukan komoditas pabrik besar. Hampir setiap rumah di desa berpopulasi 150 kepala keluarga ini memiliki alat tenun. Meski begitu, profesi penenun sejatinya cuma ditekuni kaum Hawa. Mereka lazimnya menenun di teras depan rumah, aktivitas yang dilakoni di siang hari sembari menanti para suami kembali dari sawah.

Tradisi setempat mengukuhkan peran perempuan tersebut: dalam pesta pernikahan, perempuan diwajibkan memberikan kain tenun buatan sendiri kepada pasangan. Sebuah lelucon lokal juga mengatakan perempuan yang tidak bisa menenun otomatis bakal “menjomblo” seumur hidup.

Kenapa profesi penenun hanya ditekuni perempuan juga bisa dijelaskan dalam konteks ekonomi: istri yang menenun diharapkan bisa menunjang perekonomian keluarga saat terjadinya gagal panen.

Karena cuma mengandalkan mesin sederhana, proses penenunan umumnya berlangsung lumayan lama. Dibutuhkan setidaknya sebulan guna menghasilkan selembar kain dengan lebar 1,2 meter dan panjang dua meter. Tingkat kerumitan motif dan jenis benang menentukan harga kain di pasaran—rata-rata berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp5 juta per lembar.

Banyumulek

Tembikar atau gerabah sudah digunakan manusia sejak ribuan tahun silam. Sejarah mencatat, benda ini sudah ada sejak zaman Neolitikum ketika manusia mulai hidup menetap, bercocok tanam, dan mengenal api. Di Lombok, tradisi pembuatan gerabah bisa kita saksikan di Desa Banyumulek.Desa Banyumulek berlo-kasi di Kecamatan Kediri. Para perajin pria dan wanita umumnya bekerja di gudang, bengkel, ataupun halaman rumah. Di ruangan-ruangan cupet itu mereka menghasilkan berbagai gerabah yang kemudian diekspor ke negara-negara maju semacam Selandia Baru, Belanda, Prancis, dan Amerika.

Proses pembuatan gerabah bisa disaksikan siapa saja. Sejumlah bengkel besar bahkan membuka kelas bagi pengunjung yang ingin mempelajari teknik pembuatannya. Di kalangan warga desa, keahlian membuat gerabah lazimnya diwariskan lewat garis darah. Anak-anak mempelajarinya sejak usia belia.

Dalam sehari, perajin senior bisa menghasilkan 10 gerabah kecil setinggi 4-5 centimeter. Keuletan dan kesabaran jadi kunci dalam menghasilkan produk bermutu tinggi.

Metode pembuatan gerabah sebe-narnya cukup simpel. Awalnya, bahan-bahan mentah seperti tanah liat (dibeli seharga Rp150 ribu per karung kecil), pasir, dan air dicampur menjadi adonan. Cara mencampurnya mirip proses pembuatan tempe: adonan diinjak-injak bersama-sama oleh pekerja hingga semua materi tercampur. Pekerjaan yang menyedot tenaga ini biasanya dilakukan para pria. Di tahap berikutnya, adonan dibentuk menjadi gerabah, kemudian dibakar di atas jerami. Proses yang terakhir ini umumnya menjadi tanggung jawab kaum wanita.

Paket wisata ke Banyumulek dan menyaksikan proses pembuatan gerabah ditawarkan oleh banyak operator tur. Namun penting diketahui, desa ini bukan-lah satu-satunya produsen gerabah di Lombok. Desa Penunjak dan Masbagik adalah dua mesin ekonomi lain yang rutin menyumbang devisa bagi pulau.

Persaingan mendorong tiap desa mengembangkan desain dan motif yang khas. Di sepanjang jalan utama di Banyumulek berdiri toko-toko yang menjual gerabah dengan tema flora dan fauna. Bentuknya pun beragam. Ada periuk, jeding, kuali, serta kendi maling yang menjadi ciri khas Banyumulek.

Sebuah guci berukuran 50 centimeter yang dibalut motif batik dibanderol Rp700 ribu oleh si penjual. Harga yang wajar mengingat proses pembuatan motifnya memakan waktu tiga hari. Gerabah paling mahal bisa menembus angka Rp1,5 juta. Oleh-oleh yang menarik bagi Anda yang berkunjung ke Lombok

Spa Kopi Lombok

Selain buah-buahan segar, kopi adalah salah satu kekayaan gastronomi Lombok yang wajib dicicipi. Warga biasa menyeruputnya di rumah dan warung-warung pinggir jalan. Tapi kini ada cara kreatif dalam menikmati kopi Lombok. Bubuk kopi tak lagi diseduh di cangkir, melainkan ditaburi di tubuh sebagai bahan spa.

Adalah Aditama Spa [Jayakarta Hotels & Resorts, Jl.Raya Senggigi Km.4, T.0370 693045, http://www.jayakartahotelsresorts.com] yang berhasil mengekspansi fungsi kopi ke luar dari ”fitrahnya” tersebut. Mereka mengklaim bubuk kopi berkhasiat mengangkat sel kulit mati dan menghaluskan kulit. Paket perawatannya diberi nama ”Lombok coffee exfoliation”. Bangunan spa berada di dekat kolam renang hotel, sekitar 200 meter dari bibir pantai.

Terapi yang berlangsung selama dua jam ini dilakukan di ruang perawatan yang dipayungi atap alang-alang dan dikelilingi gorden putih. Tahap pertama adalah pijat dan lulur tradisional. Otot-otot tubuh, mulai dari jari jemari kaki hingga bagian pundak dan leher, dilemaskan. Selanjutnya adalah body scrub selama 10 menit menggunakan bubuk kopi. Kombinasi aroma kopi dan suara desiran ombak mampu menghadirkan suasana rileks di kepala.

Di sesi berikutnya, tubuh dilumuri scrub berisi yoghurt beraroma vanila yang berfungsi melembapkan kulit, lalu ditutup dengan mandi dalam bathtub bertaburkan bunga mawar. Perawatan yang sangat menyegarkan tubuh dan pikiran ini dibanderol seharga Rp225.000.

Ampenan Kuno

Kecamatan Ampenan menyimpan kawasan kota tua yang bercerita banyak tentang posisi Lombok dalam percaturan sejarah. Setelah Belanda masuk melalui bagian timur pulau pada 1674 dan kemudian menjalin relasi dengan kerajaan-kerajaan di Lombok guna mengalahkan dominasi Bali, Ampenan menjadi kawasan yang pertama kali dikembangkan sebagai pelabuhan pada 1800-an. Lokasi yang strategis di tepi barat sempat menjadikannya kota pelabuhan yang cukup sibuk. Ampenan berasal dari kata Sasak “amben” yang berarti tempat singgah.

Layaknya kota pelabuhan, Ampenan dihuni berbagai macam etnis, konfigurasi demografis yang masih langgeng hingga kini. Warga Tionghoa yang awalnya diimpor Belanda sebagai tenaga kerja murah hidup berdampingan dengan komunitas Arab, Melayu, serta Bugis. Jalan utama Yos Sudarso menggambarkan fenomena koeksistensi antaretnis ini: di satu sisi berdiri ruko-ruko kuno milik warga Tionghoa, sementara di seberangnya terdapat barisan toko milik komunitas Arab yang menjajakan barang-barang khas Timur Tengah.

Wihara Bodhi Dharma yang berdiri sejak 1804 menjadi saksi bisu lain dari proses pembauran antarsuku di Ampenan. Rumah suci berbahan kayu milik umat Buddha ini berdiri persis di hadapan Kampung Melayu yang didominasi penganut Islam. Sementara itu kawasan pesisir didiami komunitas Bugis yang rata-rata berprofesi sebagai nelayan. Namun, meski tampak harmonis, warga di sini tak selamanya hidup rukun dalam perbedaan. Sejumlah media mencatat, Lombok, termasuk Ampenan, pernah mengalami kerusuhan berbau rasial di awal 2000.

Ancaman lain bagi Ampenan adalah kurangnya perhatian pada warisan sejarah. Banyak bangunan minim perawatan. Hujan yang mengguyur sebentar cukup untuk menyulap sejumlah tempat menjadi kubangan. Bahkan pelabuhan yang menyimpan kisah penting di masa silam dibiarkan terbengkalai termakan usia. Beberapa peninggalan dari pelabuhan ini konon justru bisa disaksikan di Hotel Tugu Lombok yang terletak sekitar 70 kilometer di utara Ampenan.

Pura Lingsar

Pura Lingsar adalah salah satu tempat di Lombok di mana penganut Hindu dan Wektu Telu (kepercayaan Sasak) hidup akur bak saudara. Pura Lingsar adalah bangunan suci bagi dua ajaran. Di bagian atas terdapat pura untuk umat Hindu yang dinamakan Gaduh, sementara di bagian bawah terdapat Kemaliq untuk warga Sasak. Dua penganut juga berarti dua sesajen yang berbeda. Umat Hindu menggunakan daun kelapa sebagai wadah sesajen, sedangkan warga Sasak memakai daun pisang.

Keheningan di pura berubah menjadi kemeriahan saat warga menggelar Perang Topat di sekitar November dan Desember. Perayaan ini awalnya ditujukan untuk menghormati para wali yang menyebarkan Islam di Lombok, namun kemudian berkembang menjadi perayaan inklusif bagi seluruh masyarakat. Dalam Perang Topat, ketupat yang telah diberkati oleh amangku­ atau pemuka adat dibagikan kepada seluruh umat untuk kemudian digunakan sebagai amunisi dalam ajang lempar-lemparan, sementara sisanya diperebutkan untuk dibawa pulang dan diletakkan di sawah.

Gunung Rinjani

Menjulang setinggi 3.726 meter, Rinjani adalah gunung tertinggi ketiga di Indonesia setelah Kerinci dan Jayawijaya, sekaligus salah satu yang teraktif dari total 70 gunung aktif dalam jaringan “rantai api” Nusantara.

Seperti gunung-gunung lainnya, ia menyimpan kisah mistis. Konon, Rinjani merupakan tempat tinggal Dewi Anjani, seorang ratu berparas cantik keturunan Raja Selaparang yang lahir dari perkawi-nan manusia Sasak dan jin.

Kekayaan alam di atap Lombok ini sangatlah impresif. Ia memiliki hutan hijau, air terjun, gua, mata air panas, termasuk salah satu yang paling terkenal, Danau Segara Anakan yang terhampar seluas 1.100 hektare. Obyek unik lainnya adalah Gua Susu yang sering digunakan warga lokal untuk bermeditasi. Konon, lubangnya yang sempit hanya bisa dilalui oleh mereka yang berhati bersih. Asap panas yang menyembur di dalam gua juga dipercaya berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit.

Rinjani dikelola oleh Balai Taman Nasional Gunung Rinjani dan Rinjani Tracking Management Board. Mengunjunginya dari Mataram menyedot waktu kurang lebih empat hingga lima jam. Periode ideal untuk mendakinya adalah di musim kemarau, dari Juni hingga Agustus. Sebelum memulai ekspedisi, pendaki disarankan memantau kondisi gunung sebab, seperti yang terjadi di awal tahun ini, anak Rinjani mulai “batuk” dan menyemburkan debu hingga medan pendakian pun ditutup untuk umum.

Pura Batu Bolong

Di tempat inilah Dang Hyang Dwijendra dikisah-kan pernah singgah. Dia adalah pendeta asal Jawa Timur yang memiliki peran penting dalam perkembangan agama Hindu di Bali dan Lombok. Pura Batu Bolong berdiri di dekat Pantai Batu Layar di kawasan Senggigi, sekitar 20 kilometer dari Mataram. Situs suci umat Hindu ini sekilas mengingatkan kita pada Tanah Lot di Bali—bangunan ibadah yang terletak di bibir pantai dengan posisi menjorok ke laut.

Untuk memasuki pura, pengunjung diwajibkan memakai pita kuning yang dilingkarkan di pinggang. Pita disewakan di dekat pintu masuk. Tarif sewanya sukarela alias terserah kita.
Ada dua pura yang menghiasi karang warna hitam ini. Berjalan menuruni anak tangga, kita akan menemukan pura pertama yang bersemayam di bawah naungan pepohonan rindang. Pura kedua berdiri di atas karang yang menjulang setinggi kurang lebih empat meter dan memiliki lubang di tubuhnya. Lubang inilah yang menjadi inspirasi lahirnya nama Pura Batu Bolong.

Posisi pura utama agak tinggi. Kita harus berjalan berhati-hati agar tidak terciprat ombak yang menghantam karang. Konon, meski senantiasa digaduhkan oleh suara empasan ombak, Pura Batu Bolong diyakini bisa memancarkan getaran rohani yang damai dan khusuk di batin para peziarah.

Saat Lebaran, umat Muslim Lombok berbondong-bondong membanjiri pantai di depan pura untuk beramai-ramai menyan-tap opor ayam, ayam Taliwang, ketupat, dan serundeng.

Pasar Ikan Tanjung Luar

Harus bangun lebih pagi guna menyaksikan momen terbaik di tempat ini. Tanjung Luar berada di Lombok Timur, sekitar 160 kilometer dari Mataram. Kawasan pelabuhan ini merupakan tempat pelelangan ikan terbesar di Lombok. Aktivitasnya dimulai sejak pukul 05:00.

Segala jenis ikan dijual di sini, termasuk manta ray dan hiu. Khusus ikan-ikan berbadan besar, para nelayan umumnya sudah memiliki pemesan tetap. Sirip hiu diekspor ke Hong Kong, sementara insang manta ray dikapalkan ke pabrik kosmetik di Surabaya.

Terlepas dari kemungkinan terjadinya pelanggaran atas aturan penangka-pan hewan yang dilindungi, pasar ikan ini tetap menjadi destinasi yang menarik dikunjungi. Pasar Tanjung Luar bisa dibilang merupakan jantung perekonomian para nelayan di Lombok Timur. Jika antimakan sirip hiu, setidaknya Anda bisa mencoba cumi-cumi, siput, udang, atau tongkol. (jalanjalan.co.id)

About travelyuk

indonesia hotel reservation

Comments are closed.

%d bloggers like this: