RSS Feed

Snorkeling dan Memancing di Ibukota Ikan Dunia

Posted on

”Adam, merapatlah dulu kita ke Batanta!” teriak Tiaz, pemandu kami, kepada pengemudi speedboat. Cuaca pagi yang cerah mendadak berubah gelap. Angin berembus kencang. Hujan mulai membasahi tubuh kami. Tak lama berselang, ombak besar pun mulai menghantam badan perahu. Adam kemudian membanting kemudi ke arah Kampung Amdui di Pulau Batanta, satu dari empat pulau besar di Kepulauan Raja Ampat.

Perjalanan dari Sorong menaiki speedboat bermesin ganda berkekuatan 115 PK ini idealnya berlangsung selama dua jam saja, lebih cepat dari feri yang memakan waktu dua kali lipat. Tapi rupanya tak ada yang ideal di alam liar Raja Ampat. Cuaca berkuasa atas segalanya.

Ada banyak alasan kenapa Raja Ampat begitu memikat manusia dari penjuru mata angin. Terletak di pusat segitiga karang dunia, kepulauan ini memiliki keanekaragaman hayati yang sulit ditandingi. Sebuah survei oleh The Nature Conservancy menyebutkan Raja Ampat ditumbuhi 553 spesies terumbu karang yang mewakili 75 persen spesies dunia. Para peneliti juga memperkirakan 1.320 jenis ikan hidup di perairannya yang luasnya mencapai empat juta hektare—kekayaan alam yang mem-beri Raja Ampat julukan “ibukota ikan dunia”.

Raja Ampat terletak di barat daya Papua. Ia tersusun oleh ratusan pulau, empat di antaranya berukuran besar, yakni Pulau Misool, Salawati, Batanta, dan Waigeo. Raja Ampat resmi berstatus kabupaten kepulauan sejak 9 Mei 2003 dengan ibukotanya terletak di Pulau Waigeo.

Kami bergerak menuju penginapan di sebuah daerah terpencil bernama Waiwo. Pasir putih terben-tang membingkainya. Beberapa meter dari bibir pantai terlihat terumbu karang yang berserakan di bawah permukaan air laut. “Selamat datang di Waiwo Resort,” ujar pemandu, ”resor ini milik Departemen Kelautan dan Perikanan.”

Burung-burung maleo bernyanyi menyambut kedatangan kami. Resor yang baru berdiri setahun silam ini memiliki lima buah vila. Listrik hanya mengalir di malam hari, mengandalkan genset yang beroperasi dari pukul enam sore hingga enam pagi. Tak masalah, sebab memang tak ada gunanya menghabiskan waktu di kamar di siang hari. Pemandangan yang tersaji di luar begitu indah. Kita bisa melakoni diving, snorkeling, ataupun island hopping. Saat sedang duduk-duduk di dermaga, seekor penyu dan hiu sirip hitam melintas di bawah kaki saya.

Esok paginya, saya meluncur ke Teluk Kabui, daerah tak berpenghuni yang berjarak hanya 30 menit dari resor. Di perja-lanan, kami dikejutkan oleh kemunculan sekelompok lumba-lumba hidung botol. Mereka membuntuti speedboat, seakan ingin mengajak kami bermain. “Kalau beruntung, kita juga bisa melihat paus,” ujar pengemudi speedboat. Teluk Kabui adalah salah satu nirwana diving di Raja Ampat—kumpulan bebatuan hijau menyembul dari dasar laut, burung-burung camar melenggang di bawah gumpalan awan putih, dan berbagai jenis ikan berseliweran di air bening. Sampah? Tidak ada sama sekali.

Saya sempat berbincang-bincang dengan seorang ibu yang sudah tinggal selama 30 tahun di Teluk Kabui. “Mata pencaharian utama di sini adalah mencari ikan dan berkebun,” tuturnya. Dengan menyandarkan hidup pada alam subur Papua, sang ibu berhasil mengirim ketiga orang anaknya ke universitas di Sorong. Bagi masyarakat pesisir, pendidikan adalah solusi untuk keluar dari jurang kemiskinan, agar kelak anak-anak mereka kelak tak perlu lagi mencangkul tanah atau menjaring ikan. Meski itu bukan berarti mereka tak peduli lagi pada tanah kelahiran. “Anak saya mengambil jurusan perikanan,” lanjut si ibu, ”agar ia dapat terus berbakti dan menjaga kelestarian Raja Ampat.”

Saat makan malam, tiga orang turis asing asyik berdiskusi tentang pengalaman diving mereka. “Saya melihat manta sepanjang enam meter,” ujar Tina, backpacker asal Polandia, ”manta terbesar yang pernah saya lihat.” Sebastian asal Swiss tak kalah takjub. “Indonesia is just awesome,” ujarnya dengan wajah berbinar. Entah sudah berapa lama ia terpesona oleh kemolekan Papua, tapi di tubuhnya tergambar tato burung cenderawasih.

Dolar dan rupiah yang mengalir dari kantong turis mengge-rakkan pembangunan di Raja Ampat. Tengok saja Waisai, pusat pemerintahan di Waigeo. Jalan aspal mengular ke sana sini. Jembatan-jembatan berdiri kokoh menghubungkan kawasan pelosok. Penataan kawasan di Waisai mengadopsi konsep zonasi modern. Ada distrik komersial, permukiman, pelabuhan, dan pemerintahan. “Sebelum pemekaran tujuh tahun lalu, daerah ini hanya berupa hutan lebat,” ujar Tiaz.
Usai mengemas perbekalan, kami berangkat ke Pulau Myoskon dan Kri. Myoskon adalah pulau kecil yang menjadi favorit para diver di Waigeo. Arus kencang tidak mengendurkan niat saya untuk langsung “nyemplung” ke laut.

Pemandangannya luar biasa, bagaikan menonton pertunjukan Broadway di dalam air. Ratusan satwa laut mengerubungi saya. Ada nemo, kakatua, penyu, dan sotong berukuran raksasa yang belum pernah saya jumpai sebelumnya. Diving adalah cara terbaik untuk menikmati keindahan Raja Ampat. Tapi jika Anda belum memiliki sertifikat menyelam, snorkeling pun tak kalah seru.

Erwin, seorang pengelola resor, mengajak saya memancing. “Sekalian melihat sunset”, katanya merayu. Saya pun bertanya tentang ikan yang akan dipancing. ”Ini Raja Ampat, semuanya ada,” jawabnya. Beberapa ikan yang biasa tercantol kail Erwin adalah barakuda, tenggiri, dan marlin. Tepat pukul lima sore kami bertolak dari dermaga, lalu menuju Sardine Reef. Memancing dengan latar suasana matahari terbenam adalah momen yang sulit terlupakan.

Getting there
Tak ada penerbangan langsung dari Jakarta ke Raja Ampat. Anda harus terbang dulu ke Sorong menggunakan antara lain Lion Air (Rp3.589.600), Express Air (Rp3.500.000), dan Merpati Nusantara (Rp3.247.800)—semua harga pp di Juni—lalu melanjutkan perjalanan menaiki kendaraan selama 15 menit menuju Pelabuhan Rakyat. Taksi jenis Toyota Avanza mematok tarif sekitar Rp100.000 per mobil. Selanjutnya Anda naik kapal feri (Rp120 ribu per orang) yang berangkat satu kali per hari setiap pukul 14:00 menuju Waisai, Pulau Waigeo. Ada banyak penginapan di Raja Ampat, mulai dari resor yang mematok tarif $2.000 per minggu sampai wisma milik pemda seharga Rp600.000 per dua orang. Jika pesawat dari Jakarta mengalami keterlambatan sehingga Anda tertinggal feri, sebaiknya menginap di Sorong. Ada banyak hotel yang bisa dipilih, salah satu yang cukup nyaman adalah JE Meridien Sorong [Jl.Basuki Rahmat Km.7,5 T.0951 327 999, hoteljemeridiensorong.blogspot.com, mulai dari Rp423.500]. Untuk informasi tentang Raja Ampat dan segala aktivitas yang bisa Anda lakoni, silakan klik http://www.gorajaampat.com.

About travelyuk

indonesia hotel reservation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: