RSS Feed

Berenang dengan Ubur Ubur di Derawan

Posted on

Konon, mantan presiden Soeharto adalah satu-satunya orang yang mampu menjinakkan laut ganas di sekitar Kepulauan Derawan. Sehari sebelum ia berkunjung, serombongan wartawan jatuh dari perahu dan hanyut di tengah laut akibat terpaan ombak galak. Tapi ketika Soeharto datang, laut mendadak berubah kalem. Malam harinya, seekor penyu bertelur persis di depan vila milik keluarga Cendana di Derawan. “Rombongan dukun Soeharto sakti sekali mbak,” ujar seorang warga yang menceritakan kisah misterius itu. Saya hanya bisa terkikik mendengarnya.

Laut Sulawesi memang beringas, tapi kondisinya tak melulu seperti itu. Ombak cukup tinggi, namun masih bisa dilewati—dan kita tak perlu menyewa dukun sakti untuk melakukannya. Kepulauan Derawan di Kalimantan Timur tersusun oleh 31 pulau besar dan kecil, di antaranya Pulau Derawan, Sangalaki, Kakaban, Maratua, Panjang, dan Samama. Hanya Pulau Derawan dan Maratua yang ditinggali oleh penduduk. Menurut penelitian The Nature Conservancy, perairan Derawan dihuni 870 spesies ikan dan 406 spesies terumbu karang. Kepulauan seluas satu juta hektare persegi ini juga merupakan habitat terbesar se-Indonesia bagi spesies penyu hijau yang kini terancam punah.
Mendekati Pulau Derawan, hamparan laut yang tadinya berwarna biru tua mulai memudar menjadi biru muda kehijauan. Kapal merapat di rumah apung yang dibangun menjorok ke laut. Penyu, ikan julung-julung, jutaan ikan teri, dan gurita berenang bebas di perairan bening di muka dermaga. Sesekali saya mem-benamkan diri ke air untuk mendinginkan badan. Sejumlah bocah lelaki menyertai saya. Ke mana anak perempuannya? “Saya larang berenang mbak, takut hitam. Nanti tidak laku,” jawab seorang warga. Di pulau terpencil ini stereotip ”kulit putih lebih laris” ternyata juga dipercaya.
Banyak produk yang dijajakan di sini didatangkan dari Malaysia, mulai dari camilan sampai gas (mereknya bukan LPG). Bahkan istilah dari Negeri Jiran lazim dipakai di menu yang terpampang di warung. Contohnya “kopi O” dan “teh O” yang berarti kopi atau teh manis tanpa susu. Beberapa rumah makan di Derawan menyediakan hidangan hasil laut. Namun sayuran adalah barang langka di sini. Yang tersedia hanyalah sup bening berisi kentang, kol, dan wortel. Makan nasi dengan lauk cumi-cumi, ikan, dan sup menghabiskan Rp60 ribu untuk dua orang.

Ketika hari beranjak gelap, penyu-penyu hijau mulai berenang ke pantai untuk mencari tempat bertelur. Mereka berjalan terseok-seok di atas pasir guna mencari tempat yang aman. Saya mengikuti prosesi bertelur pukul 11 malam. Seekor penyu yang memiliki badan lebih besar dari pria dewasa membuat lubang di pasir dengan cara menggesek-gesekan kakinya. Tiap penyu dikawal seorang petugas agar telurnya tidak dicuri. Mereka menadah telur-telur di ember untuk kemudian ditanam di sepetak pasir yang dikelilingi pagar. Setelah telur menetas, tukik-tukik dilepaskan ke laut. Berbeda dengan di Samarinda, tak ada warung yang menjual telur penyu di Derawan. Sikap ini lahir antara lain berkat program edukasi dari para aktivis lingkungan.

Highlight wisata di Derawan adalah island hopping sambil menyelam di perairannya. Saya membeli paket tur di Dive Center milik Losmen Danakan. Karena harga bensin di kawasan ini cukup tinggi, ditambah jarak antarpulau yang lumayan jauh, harga sewa kapal pun jadi mahal, yakni mencapai Rp900 ribu per hari. Pergi ke Derawan memang sebaiknya membawa teman agar bisa patungan.

Titik penyelaman pertama terletak tak jauh dari Pulau Derawan. Aktivitas di sini adalah macro diving alias melihat makhluk laut yang ukurannya sangat kecil, seperti nudibranch dan kepiting orangutan. Selanjutnya saya menyelam di sekitar Pulau Sangalaki yang dijuluki ”The Capital of Mantas”. Permukaan air terlihat agak kotor akibat kandungan plankton yang tinggi. Setelah mendeteksi kepakan sayap hitam dari atas perahu, saya langsung terjun ke air. Magis. Saya dikepung belasan ekor manta. Semua lebarnya lebih dari 3 meter. Kulit atasnya hitam, tapi perutnya putih. Wajahnya ceper dengan mulut yang selalu menganga guna menjaring plankton. Baru kali ini saya bertemu kerumunan manta di permukaan laut.

Keajaiban lainnya saya alami saat menyelam di sekitar Pulau Maratua yang dijuluki ”The Big Fish Country”. Saya sempat bertemu dengan sekelompok ikan barakuda. Jumlahnya ratusan. Mereka bergerak berputar-putar bak angin puyuh. Badannya yang berwarna perak seperti dilapisi duri. Mulutnya lebar dan dipersenjatai gigi-gigi runcing. Adrenalin saya memuncak setelah teringat cerita seorang dive master yang mengatakan ikan barakuda akan menyerang benda-benda yang berkilau seperti cincin berlian karena disangka mangsa. Dengan taringnya yang super tajam, ia mampu merobek daging menjadi potongan-potongan kecil. Saya hanya bisa terdiam di tempat dan memandang mereka dari jarak tiga meter.

Titik menyelam lainnya adalah perairan di sekitar Pulau Kakaban. Saya menjumpai ikan kalajengking, pakol, Napoleon, dan belut laut. Terumbu karang di sini tumbuh subur, bahkan ada yang ukurannya nyaris sebesar bajaj. Di sela-sela penyelaman, saya menyempatkan diri mampir ke Pulau Kakaban. Saya mendaki tebing berbatu lalu menuju danau berukuran lima kilometer persegi. Danau ini sudah ada di bumi sejak dua juta tahun silam. Awalnya hanya berupa laguna di sebuah atol. Seiring waktu, terumbu karang di sekelilingnya tumbuh hingga setinggi 50 meter dan memerangkap air laut di tengahnya. Karena terisolasi, maka air menjadi payau dan ekosistem di dalamnya berevolusi. Salah satu produk evolusi itu adalah ubur-ubur yang telah kehilangan daya sengatnya. Hanya ada dua tempat di dunia yang memiliki biota jenis ini, yakni Kakaban dan Palau.

Tanpa ragu, saya langsung mencemplungkan diri ke danau. Ribuan ubur-ubur berenang bebas di sekitar saya. Ukurannya bervariasi, mulai dari sebesar ujung kelingking sampai selebar telapak tangan. Tubuhnya yang empuk, transparan, dan berdenyut-denyut kadang membuat geli. Danau ini mengoleksi empat jenis ubur-ubur, tapi saya hanya menemukan tiga. Ada yang berbentuk jamur bundar terbalik, jamur kurus dengan tentacle panjang, dan kantong plastik transparan. Konsentrasi ubur-ubur semakin tinggi di tengah danau. Rasanya seperti berenang di baskom berisi cendol.

Getting there
Rute Jakarta – Balikpapan – Berau dilayani oleh Batavia Air (Rp2.848.000, pp di Juni). Perjalanan dilanjutkan menggunakan speedboat selama tiga jam ke Derawan. Pilihan lain adalah lewat jalur darat. Sejak PON XVII, pemerintah daerah setempat telah membuka jalan aspal dari Tanjung Redeb di Berau menuju Tanjung Batu yang dapat ditempuh selama tiga jam naik mobil, lalu diteruskan dengan naik speedboat selama 30 menit ke Derawan. Periode terbaik untuk berkunjung adalah dari April sampai Oktober. Ada dua penginapan yang bisa dipilih, yakni Losmen Danakan [Rp 150.000 untuk kamar dengan AC] dan Derawan Dive Resort [www.divederawan.com, mulai dari $40]. Sebelum berkunjung, siapkan uang tunai sebab Derawan tidak memiliki mesin ATM, money changer, maupun bank. Listrik hanya menyala pada jam enam sore sampai enam pagi. Pastikan Anda mengisi penuh baterai telepon genggam di siang hari.

(trinity/jalanjalan)

About travelyuk

indonesia hotel reservation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: