RSS Feed

What’s Hot in Singapore – Wild Wild Wet & Chijmes

Posted on

Wild Wild Wet

Wild Wild Wet adalah water park yang berada di sebelah kiri gerbang kompleks Escape Theme Park di Pasir Ris, tak jauh dari Bandara Changi. Harga tiket masuk S$15,50 per orang, ditambah tarif sewa loker otomatis S$2.

Peraturan keamanan dan keselamatan diterapkan super ketat di Wild Wild Wet. Di banyak tembok tertempel pengumuman dilarang melakukan ini dan itu. Di kolam arus, tiap interval lima meter berdiri lifeguard yang memegang ban penyelamat. Proses meluncur diatur seperti perempatan lalu lintas—jika lampu kuning menyala, berarti kita tidak boleh meluncur dan harus menunggu sampai orang di depan mendarat di kolam. Petugas yang berjaga di atas menara terikat pada tali dan karabiner, mirip pembersih kaca gedung.

Di tengah water park terdapat Professor’s Playground, kolam atraksi khusus anak-anak. Isinya mulai dari air mancur, ember raksasa yang menumpahkan air secara periodik, tangga berwarna-warni, sampai pistol yang menembakkan air. Fasilitas untuk balita bernama Yippee!, yakni aneka permainan berbahan karet berbentuk binatang yang bisa dinaiki. Di atasnya terdapat kereta kayuh bernama Skyrider yang meluncur mengitari kawasan kompleks. Kita bisa menaikinya untuk mengeringkan badan.

Saya memulai dengan kolam arus sepanjang 335 meter bernama Shiok River. Kolam ini memiliki air terjun mini yang mengguyur tiap orang yang lewat di bawahnya. Selanjutnya saya menjajal atraksi utama, Ular-Lah. Menggunakan ban berkapasitas enam orang, saya meluncur dari gedung tiga lantai, melewati trek yang dipenuhi tikungan tajam. Wild Wild Wet mengklaim perosotan arung jeram ini sebagai yang pertama di Asia Tenggara.

Perosotan air lain yang saya coba adalah The Waterworks. Papan luncurnya ada dua: tertutup dan terbuka. Lagi-lagi, sebe-lum meluncur, petugas memberikan pembekalan singkat soal keselamatan. Saya sudah mendengarkan dengan saksama, tapi bencana yang saya alami kemudian ternyata tidak dibahas dalam materi pembekalan: saya terjebak di tengah-tengah perosotan akibat terlalu gendut dan arus air kurang deras. Saya sempat panik dan klaustrofobik. Saat berada di dalam terowongan, mata terbuka atau tertutup sama gelapnya. Saya lalu berteriak meminta tolong. Tak lama petugas menyahut dan menyuruh saya merangkak pelan-pelan ke luar. Layaknya peneliti di gua bawah tanah, saya meraba dinding terowongan, kemudian pelan-pelan merangkak ke luar. Sampai di ujung terowongan, petugas langsung menarik tubuh saya. Lega rasanya. Seorang bocah berusia delapan tahun menertawai saya sembari berkata: “Saya sudah naik-turun tiga kali, tapi tidak pernah mentok tuh!”

Menutup petualangan, saya melemaskan otot di kolam jacuzzi. Memang nikmat menikmati segala fasilitas water park tanpa harus mengantre dan berdesak-desakan.

Chijmes

Banyak orang pernah melewati-nya, dan mungkin juga mendiskusikannya, tapi entah mengapa, tak banyak yang menyambanginya. Chijmes (dibaca ‘chaims’) berlokasi di Victoria Street, persisnya di seberang Raffles Hall dan Raffles City Shopping Center. Berdiri di pintu masuk gedung, mudah dimengerti mengapa banyak orang kurang terpikat untuk mampir. Bangunan utama Chijmes adalah sebuah gereja Katolik bergaya gothic yang dipagari tembok panjang layak-nya penjara tua. Tak ada kesan sedikit pun ia merupakan destinasi makan.

Begitu melangkah ke bagian belakang, barulah saya mendapati daya tarik sebenarnya dari tempat ini. Di bawah atap yang menjulang tinggi, belasan restoran, kafe, bar, dan toko saling berbagi tempat di antara pilar-pilar besar. Beberapa courtyard (taman di antara bangunan) juga menggelar meja-meja makan dengan konsep penataan candle light dinner. Di basement, pemandangannya lebih memukau lagi. Meja dan kursi ditata anggun bak ruang makan kaum ningrat. Sebagian besar restoran dan bar yang bertingkat dua menawarkan meja di halaman agar para tamu bisa menyantap hidangan di bawah taburan bintang.

Chijmes diambil dari kata CHIJ, akronim dari Convent of the Holy Infant Jesus, kompleks biara dan sekolah Katolik seluas 16.187 meter persegi yang berdiri pada 1854. Tempat ini juga memiliki kapel yang kemudian berubah menjadi gereja, serta Caldwell House, bangunan berusia 150 tahun yang berfungsi sebagai rumah bagi para biarawati.

Pemerintah Singapura yang melihat Chijmes sebagai aset sejarah kemudian merenovasinya pada 1991. Prosesnya memakan waktu 5,5 tahun dan meng-habiskan dana S$100 juta, nyaris setara kekayaan mantan pegawai pajak Bahasyim Assifie. Melihat banyaknya bangunan uzur yang terbengkalai di Indonesia, langkah pemerintah Singapura ini seper-tinya layak dicontoh. (trinity/jalanjalan.co.id)

About travelyuk

indonesia hotel reservation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: