RSS Feed

What’s Hot in Singapore – East Coast

Posted on

Meski dilewati hampir semua taksi yang meluncur dari Bandara Changi ke pusat kota, kawasan East Coast ternyata belum banyak dikenal orang. Bagi saya, inilah tempat pelesir terbaik di Singapura. Alamnya asri, udaranya segar, dan nuansanya tradisional. Bukan wajah Singapura yang selama ini kita kenal memang, tapi pastinya bisa membuat kita jatuh hati.

Sesuai namanya, East Coast terletak di sisi timur pulau. Palingkan wajah ke sisi kiri saat berkendara dari bandara, niscaya Anda akan menyaksikan hamparan pasir putih sepanjang 20 kilometer. Daerah di East Coast yang masih berkarakter tradisional adalah Katong. Kita bisa melacak sejarah budaya Singapura di tempat ini. Pada abad ke-19, Katong merupakan kawasan permukiman elite, terutama bagi ekspatriat dan Suku Peranakan. Keluarga politikus Lee Kuan Yew dan Goh Chok Tong pun pernah tinggal di sini.

Peranakan (disebut juga “Baba-Nyonya” atau “Straits Chinese”) adalah suku ”asli” Singapura. Mereka dicirikan dengan mata yang sipit dan warna kulit yang tidak terlalu kuning. Bahasanya disebut “Baba Malay”, campuran antara Cina Hokkien dan Melayu (sayangnya kini hampir punah karena generasi muda mereka lebih suka berbahasa Inggris).

Kaum Peranakan mudah ditemukan di East Coast Road dan Joo Chiat Road. Sekitar 700 rumah di sini telah ditetapkan sebagai aset budaya oleh pemerintah, sehingga tidak boleh dimodifikasi apalagi dihancurkan oleh penghuninya. Jajaran perumahan yang mereka sebut “shophouse” (ruko atau rumah toko) ini dicat dalam warna-warna pastel. Setiap rumah bertingkat dua dengan lebar maksimum sekitar enam meter. Bagian depan lantai dua sengaja dibuat menjorok ke luar guna memayungi teras di lantai satu. Jendela di lantai atas bermodel French window dengan dekorasi fretwork ala Melayu. Seperti kebanyakan rumah di Indonesia, atapnya memakai genting warna oranye Alvin Yapp, warga asli Peranakan, mengajak saya singgah di rumahnya. Kolektor barang antik ini menyewakan kediamannya untuk dinner party ala Peranakan. Memasuki rumah Alvin serasa mengunjungi kediaman nenek di desa. Saya melihat ubin warna abu-abu, furnitur kayu antik, tempat makan sirih, rantang kaleng bermotif bunga, lemari kayu berukir, serta foto-foto hitam putih dalam bingkai tua.

Di sepanjang East Coast Park juga berdiri bermacam kafe, restoran, dan bar. Restoran laksa yang paling populer adalah Katong Laksa 328. Rasanya memang berbeda dari laksa versi Indonesia. Kuahnya berwarna putih kemerahan dengan tekstur yang lebih kental dan rasa yang gurih. Semangkok berisi mi putih yang dimasak al dente, ditambah udang, fishcake, dan kerang.

Tempat makan favorit saya adalah East Coast Seafood Center yang menaungi beberapa restoran semi-outdoor di bibir pantai. Menu yang sedang jadi tren adalah Srilankan chilli crab. Saya mencobanya di Jumbo Seafood Restaurant. Kepiting yang diimpor langsung dari hutan bakau Sri Lanka ini luar biasa besar ukurannya – cangkangnya berwarna merah, dagingnya tebal, dan rasanya manis. Rasa bumbu chilli crab mirip kepiting saus padang, tapi tidak terlalu pedas. Menu lain yang saya coba adalah Srilankan black pepper crab. Yang ini jauh lebih nikmat.(Trinity /jalanjalan.co.id)

About travelyuk

indonesia hotel reservation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: